Basyori Saini
Pengamat Sosial

Ada yang menarik ketika saya berkunjung ke rumah teman saya, tumpukan koran dan majalah yang biasanya menggunung di rumahnya sekarang sudah tidak ada lagi.
Saya pun berdecak kagum dengan apa yang saya lihat,
harap maklum, karena teman saya ini adalah kutu buku.
Sangat kutu buku. Kalau ada peringkat untuk orang yang gemar membaca, mungkin teman saya ini sudah pada level 100. Sementara saya masih berkutat di angka 30 atau 40 saja. Karena hampir tidak ada informasi baru yang dia tidak tau, buku, majalah, koran, tabloid media online dan sebagainya lengkap dimilikinya. Bahkan kalau bepergian yang menempuh waktu cukup lama, dia pasti membawa buku paling kurang 5 atau 10 buah buku. Bukan main, sepanjang perjalanan di habiskan dengan melahap buku-buku sambil sesekali berdiskusi. Berpisah
dengan bahan bacaan adalah barang tabu baginya.
Namun virus yang saya tularkan kepadanya beberapa waktu yang lalu rupayanya telah merasuk dengan dahsyat di hatinya. Virus untuk berhenti berlangganan Koran, majalah dan media gossip murahan lainya. Awalnya dia sangat keberatan dan menganggap bahwa saya hanyalah korban sentimental tulisan wartawan alay. Namun setelah berdikusi panjang lebar akhirnya dia menyerah dan menyatakan akan berhenti berlangganan Koran. Apa yang
sampean harap dari Koran sekarang? Lihat aja isinya, tidak lebih dari corong pemerintah, datar, copy paste dengan sumber berita yang lain, minim analisa, tidak berimbang, maju terus membela yang bayar, Koran iklan, tulisan dangkal dari orang-orang jaim, saya berorasi pongah di hadapanya seraya menjunjukkan Koran yang sesungguhnya. Teman saya bertekuk lutut dan manggut-manggut, mungkin malas
mendebat saya….he….he..he….
“Tapi mas, masih ada Koran yang baik, yang berimbang dan memberikan informasi yang
mendidik, mencerahkan dan menyuarakan ketidakadilan” jawab teman saya tidak kalah
sengit. Wartawan juga manusia mas, perlu makan, perlu mobil, perlu gadget untuk
komunikasi, perlu hidup layak supaya bisa bertugas dengan baik” begitu teman saya
berargumen. Di ujung pembicaraan kami sepakat bahwa kami tidak membahas pers yang
baik, yang kami bahas adalah pers pragmatis yang hanya menjadi media massa sebagai
tools of business, tanpa memperdulikan fungsi sebenarnya.
Anjing penjaga
Dalam satu tatanan negara dan segenap system penyelenggaranya, pers adalah anjing penjaga yang berfungsi menyalak terhadap segala bentuk ketidakbenaran, penyimpangan, pelanggaran, pelecehan, dan berbagai bentuk pengingkaran atas kebenaran. Namanya anjing penjaga, dia tidak mudah di elus atau di akrabi oleh pendatang baru atau orang yang tidak ia kenal. Nyaring menyalak dan cenderung represif terhadap ketidak benaran. Selalu sigap dan memasang indera untuk mengendus segala macam yang
tersembunyi, mencurigakan, berbau busuk, dan akal-akalan. Anjing penjaga tipikali berbadan kurus, lincah dan energik. Karena ia diperlukan untuk dapat berlari kencang mengejar maling dan bajingan tengik yang suka bikin onar. Kalaupun tidak kurus, paling tidak ia berbadan ideal, sesuai antara ukuran phisik dan bobot badan. Sehingga dengan memandangnya saja, maling sudah takut untuk meneruskan niat jahatnya. Jangankan untuk berulah di depannya, memberinya makan saja harus berhati-hati, salah-salah tangan bisa hilang ikut dimakan. Trah yang umum dijadikan anjing penjaga adalah Herder, Doberman, Golden Retreiver, Rotweiler dan sejenisnya. Trah anjing yang benar-benar memiliki kualitas sebagai anjing penjaga. Orang gila saja yang menjadikan anjing pudel, Afenpinscher, Bolognese dan jenis anjing hias sebagai anjing penjaga. Selain tidak galak, bentuknya yang imut dan lucu justru akan memicu andrenalin maling untuk mencurinya. Anjing hias memang bukan anjing penjaga, tapi anjing penjaga dapat menjadi anjing hias dengan tampang sangarnya.
Tapi segalak-galaknya anjing penjaga, lama-lama akan jinak juga jika setiap hari diberi makan daging, ayam, dan yang mak nyus dan bikin ngiler, minum susu, tulang gurih dan enak, serta membawakan betina yang semlohai bergoyang di hadapanya. Galak mungkin tetap galak, tapi tidak kepada yang memberinya makan, dia akan tunduk, tidak usah di pukul kepalanya, menatap mata sang tuan saja dia sudah tidak sanggup. Itulah ironi anjing penjaga yang tersandera kenikmatan dunia, dan akhirnya tercerabut dari hekikat pilihan hidupnya menjadi anjing penjaga.
Demikian juga idelisme yang melekat pada pers sebagai anjing penjaga, pers yang lincah, sehat, independen, dan membela kebenaran di tengah hingar bingar kehancuran negeri karena korupsi dan perilaku menyimpang para penyelenggara negara. Saya sangat mendambakan media seperti majalah TEMPO, yang seolah remuk redam di hajar penguasa, dibredel, redaksinya di kriminalisasi, bahkan tak tanggung-tanggung presiden pun ikut memberi perintah agar media TEMPO di tutup. Pemerintah sepertinya paranoid dengan TEMPO dan takut bukan kepalang pada majalah TEMPO yang mampu masuk ke liang semut sekalipun. Mengulik data dan menyajikannya kepada masyarakat. Berbagai bentuk penyimpangan pemerintah terkuak habis dan memunculkan demonstrasi dimana-mana. Hanya ada satu kata waktu itu, LAWAN. Namun pemerintah pun tak kalah tanding, presiden Soeharto waktu itu memberikan perintah jelas, GEBUK saja kalau tidak mendukung pemerintah. TEMPO pun kandas, namun tidak dengan perjuangan jurnalismenya. Yakinlah bahwa dalam satu komunitas tidak mungkin di huni oleh orang gila semua, tapi tidak mungkin juga orang baik semua. TEMPO beruntung, masih ada hakim dan jaksa yang memiliki hati nurani untuk melihat kebenaran. TEMPO menang dan menancapkan mata penanya di ulu hati pemerintah, bahwa kebenaran adalah kebenaran, tidak bisa di kekang apalagi dihilangkan. Tokoh-tokoh seperti GM, FJ, dan banyak awak TEMPO yang lain
merupakan saksi hidup betapa jurnalisme independen adalah sebuah pilihan. Pilihan untuk berjuang bersama rakyat dan jauh dari hiruk pikuk keramaian yang dapat mengikis idealisme mereka.

TEMPO adalah tipikali pers sebagai anjing penjaga, menyuarakan kebenaran meskipun pahit dan sakit, independen, tidak dapat dijinakkan atau di rayu dengan imbalan apapun. Bagi mereka kredibilitas dan independensi adalah harga mati.
Sesuatu yang tak ternilai. Priceless.
Saya merindukan pers yang dapat menjadi penyambung lidah masyarakat atas ketidak adilan pembangunan yang mereka rasakan, atas ketimpangan social yang berjalan dan menari-nari di depan mata mereka, praktek kolusi, korupsi dan nepotisme yang berurat berakar, atas diskriminasi yang mereka alami, atas tontonan dagelan politik dan korupsi yang menyesakkan dada dan memuakkan, atas segala hal yang sulit di nalar bahwa maling-maling yang menjarah negara ini adalah saudara mereka sendiri, yang berjas dan berdasi, duduk di kursi empuk nan mewah, yang setiap hari makan santapan lezat keringat saudaranya, yang setiap hari dilayani dari memeras keringat dan memakan hak rakyat.
Semua sandiwara ironi yang terus berjalan sampai saat ini.
Realita
Saya tidak menjustifikasi pers saat ini, baik atau buruk, independen atau tidak, peka atau tidak, berimbang atau tidak, saya tidak punya kapasitas untuk itu. Biarlah mereka yang mengaku sebagai jurnalis yang men justifikasi diri mereka sendiri. Dalam kategori jurnalis kelas apa mereka sekarang. Biarlah mereka yang menilai diri mereka sendiri, sudahkah mereka benar-benar seorang jurnalis, atau hanya sekedar kuli tinta yang mengukir nasib mereka diatas pundi-pundi fulus pihak lain. Atau hanya sekedar jurnalis yang hanya menjadi corong atas kepentingan orang lain, pemerintah, pihak ketiga, atau orang kepepet yang sangat takut namanya muncul di Koran dan menjadi pesakitan. Atau preman berbaju wartawan, yang mencari kesalahan orang dan menjadikannya sebagai mesin ATM.
Tak heran jika banyak tokoh nasioanal dan masyarakat yang mengkritisi media dan pers dengan segenap sepak terjangnya saat ini. Kebebasan pers sudah semakin jauh menyimpang dari patron yang digagas oleh pendiri-pendirinya dengan berdarah-darah. Hal itu pula yang menginspirasi Goenawan Mohammad (GM) dan beberapa tokoh pers lain mendirikan Aliansi Jurnalis Independent (AJI) di Indonesia. Sebuah gerakan untuk mendobrak pers yang semakin impoten karena desakan penguasa, sebuah gerakan pembaharuan terhadap kemandirian pers, seperti cita-cita luhur para
pendirinya………………………………………….
bersambung…..



Post a Comment